Wednesday, September 23, 2020

[BERITA MOBIL] BMW M3 & M4 2021: Muka Baru, Mesin Baru

 


ITU APA?!!

Tenang dulu, jangan panik, ini BMW M3 dan M4 baru, yang akhirnya didatangkan pihak BMW Indonesia lewat launching online tanggal 30 Juni 2021.

Mulutnya kesengat lebah apa gimana sih?

Yaaaaa... ini muka baru BMW M3 dan M4, jadi terimakan saja dulu tapi tolong biar kita jelasin dulu

Hhhhh oke oke. Ini M3 sama M4 baru?

 


Yes. Perkenalkan M3 dan M4 baru, dengan wajah... baru, mesin baru, gearbox baru, dan opsi drivetrain baru. Pada dasarnya, semua yang kalian lihat ini baru dari dasar. Dan ini mobil yang penting buat BMW M, karena nama M3 udah jadi menu utama buat BMW, macem 911 buat Porsche atau Mustang buat Ford. Jadi BMW ga bisa sembarangan dengan M3 dan M4.

Tapi... mukanya...


Iya, iya, kami tahu kalian agak kaget dengan muka baru ini. Tapi bukan pertama kali BMW pake grille gede vertikal kayak begini.


Ini sportscar pertama BMW, namanya 328. Lihat grille-nya? Gede dan vertikal kan? Jadi bukan pertama kali BMW pake grille vertikal begini. Atau kalau kalian mau yang rada modern, silakan liat 3.0 CSL ini...


... Dan M3 E30 ini...


 ... Dan 328 Hommage Concept ini...


Lalu kalian putuskan dari mana datangnya grille ini. Kontroversial? Jelas. Tapi ga menghormati sejarah BMW? Ohohoho tidak sama sekali.

Iya sih... tapi di balik kulitnya gimana?

Nah, lebih menarik lagi, walopun di Indonesia kamu cuma bisa beli M3 ama M4 Competition. Dua-duanya pake mesin S58 3-liter 6-cylinder twin turbo baru dengan 503 hp dan 648Nm, dipasangin ke sistem 4WD M xDrive pake gearbox 8-percepatan otomatis, kayak di M5 Competition. Kombinasi tadi bikin M3 dan M4 Competition bisa ngebut ke 100kph dalam 3.8 detik dengan top speed 250kph (electronically limited), tapi kalo kalian ambil M Drivers Package, top speed-nya naik ke angka 290kph. Versi xDrive datang awal tahun ini dengan sistem AWD yang sama kayak di M5 Competition, tapi versi ini ngga dimasukin ke Indonesia.


Sebentar. Berarti ada yang non-Competition?

Yes, dan ini lumayan menarik sebenernya. Mesinnya sama, tapi dikurangi tenaganya ke angka 479hp dan 550Nm. Dan, M3 sama M4 standar ini cuma ada versi RWD. Lebih seru lagi, ada gearbox 6-percepatan manual standar. Yaaaaa waktu akselerasinya lebih lambat sih, tapi hidup ga cuma dari akselerasi. Tapi ya itu tadi, pasar Indonesia ga kebagian yang non-Competition. Ngga masalah sih, ga ada manual tapi mesin OP.

 


Oke, kayaknya menarik. Tapi masa iya cuma mesin baru...

Ga cuma mesin baru, chassis-nya juga dibikin lebih kaku, dan suspensinya juga lebih kompleks dari 3-series dan 4-series standar. Di depan ada set-up double wishbone dengan per double-joint. Ya, kami juga bingung sistemnya gimana. Di belakang ada set-up multi-link dengan control arms. Ya, masih tetep bingung juga. Tapi baik depan maupun belakang, semuanya dapet peredam adaptif yang bisa kalian atur tingkat peredamannya lewat sistem iDrive, yang sekarang punya sesuatu yang namanya M Drive Professional.

Eh?

M Drive Professional ini modul baru di dalam iDrive yang bisa kalian pake untuk semua set-up mobil kalian yang berhubungan sama chassis, mesin, gearbox, setir, dan rem (ya, bahkan tingkat respons pedal rem juga bisa kalian atur). Di generasi M3 dan M4 sebelumnya, kalian sebetulnya juga sudah bisa ngatur mesin dan segala hal lainnya, tapi di generasi G80/82 ini ada dua hal tambahan, yaitu M Drift Analyzer dan M Traction Control. Drift Analyzer ini sebenernya cuma ngitung sudut yaw mobil kalian kalo oversteer, jadi antara kalian bisa analisis seberapa parah kalian ngaco pas di trek... atau adu sombong sama temen kalian yang juga pake M3 ato M4. Sementara itu, M Traction Control ini punya 10 pengaturan, jadi kalian bisa atur seberapa jagonya atau seberapa bodohnya kalian di trek. Takut pusing ngaturnya? Tenang aja, kalau ga mau pusing, set-up favorit kalian bisa kalian simpen di tombol M1 atau M2 seperti biasa.


Hmmmmm... Ada yang menarik lagi?

Sekarang selain M Driver’s Package, kalian juga bisa dapet yang namanya M Track Package, di mana kalian bisa dapetin semua opsi buat meningkatkan skill kalian (atau, lebih tepatnya, kemampuan mobil kalian), termasuk bucket seat carbon Recaro, rem carbon-ceramic, wheel 19/20-inch, dan interior trim carbon. 

 


Mau lebih gila lagi? M Performance Parts punya banyak parts carbon fiber kayak front splitter, side skirt, diffuser dan wing belakang... plus exhaust titanium dengan center-exit pipes. Anggep aja jadi mini-M4 GT3. Ato anggep M4 GTS-lite. Belom liat review M4 GTS kita? Langsung ke YouTube kita aja!

 


Oke, kayaknya bakal mahal ya.

Ehhhh... sejak kapan BMW M ada yang murah? BMW Indonesia sudah ngasih harga Rp. 2.34 miliar buat M3 Competition dan Rp. 2.406 miliar buat M4 Competition. Nah, kalo pengen lebih spesial lagi BMW Indonesia juga masukin M3 & M4 Competition Individual yang bakal dapet opsi BMW Individual, tapi slot-nya limited dan harganya ada di angka Rp. 2.6-2.66 miliar (on the road). 


Ya, ga murah sih, tapi harus kalian ingat bahwa ini bukan sekedar BMW 320d yang dikasih badge M. Ini produk motorsport, dikembangin langsung bareng versi balap M4 GT3, dan semua hal yang BMW pelajari di kelas GT3, GT4, dan bahkan di kelas GTE di World Endurance Championship dipakai untuk bikin mobil yang sesuai sama tagline BMW. Ultimate Driving Pleasure. 

Spec sheets:

BMW M3 & M4 COMPETITION

Mesin: BMW S58 3-liter 6-cylinder Twin Turbo
Power: 510hp @ 6250rpm
Torque: 648Nm @ 2750-5500rpm
Gearbox: 8-speed M Steptronic automatic
0-100kph: 3.9 detik
Top speed: 250kph (limited)
Efficiency: 7.6km/liter
Emission: ... Really? You want to know?

Harga: Rp. 2.338 miliar (M3 Competition, on-the-road), Rp 2.406 miliar (M4 Competition, on-the-road)
Rp. 2.6 miliar (M3 Competition Individual, off-the-road), Rp 2.66 miliar (M4 Competition Individual, off-the-road)

Photos from BMW M & BMW Indonesia

 
 

 

 


Friday, September 11, 2020

[BERITA MOBIL] Maserati MC20: Supercar Maserati di Era Baru

 

Photo by: John Wycherley (TopGear Magazine)

Apa ini? Kok ga keliatan kayak Maserati?

Perkenalkan supercar terbaru Maserati, MC20. Ketika CEO Maserati, Mike Manley, tahun lalu bilang bakal ada kejutan dari Maserati di tahun 2020, yang pertama terlintas bukan supercar mesin tengah 600+hp. Tapi ini kejutannya, dan sejujurnya kami seneng-seneng aja sama kejutan ini.

Tapi... Maserati bukannya akhir-akhir ini agak... biasa aja?

Yes. Kami ngga menyangkal pernyataan itu. Line-up Maserati akhir-akhir ini memang agak terlalu melunak. GranTurismo dan GranCabrio udah ga ada di line-up, sementara Quattroporte sejak 2013 jadi saloon mewah buat ngelawan S-Class, bukan sports saloon performa tinggi. Tapi tahun lalu Maserati mulai menunjukkan niat buat balik ke pasar mobil sporty, dengan pertama ngerilis Levante Trofeo, dan lalu tahun ini ngeluncurin Quattroporte dan Ghibli Trofeo. MC20 ini jadi crown jewel di line-up Maserati sekarang.

Hmmmm... Rasanya bukan pertama kali Maserati bikin supercar mesin tengah ya?

Secara teknis, ya. Ini bukan supercar mesin tengah pertama Maserati. Di tahun 1971, Maserati punya supercar mesin tengah namanya Bora, dengan mesin 4.9-liter V8, dan setahun kemudian muncul Merak, versi junior dari Bora dengan mesin V6 3-liter. Tapi setelah 1983, 6 tahun setelah diambil alih Alejandro de Tomaso dan setahun setelah diambil Chrysler, ga ada supercar mesin tengah dari Maserati...

Maserati Bora (Photo: Alexander Migl)

 
Maserati Merak SS (Photo: Janderk1968 @ Wikipedia)

... Sampai tahun 2004. Di tahun itu, Maserati punya rencana buat balik ke balapan, dan rencana mereka adalah bikin mobil buat kelas GT1 di balapan FIA GT. Tapi mereka ga punya platform yang cocok, dan ngembangin dari Maserati Coupe bakal mahal dan ga optimal. Solusinya? Telepon Ferrari dan minta 25 unit Enzo untuk dijadiin road-car dari Maserati, supaya lolos aturan homologasi buat kelas GT1. Dan begitu road-car-nya beres dirancang, minta lagi beberapa chassis dan mesin Enzo buat dijadiin mobil balap. Dan akhirnya muncullah Maserati MC12.

Maserati MC12 road-car
 

Maserati MC12 GT1 dari Vitaphone Racing, FIA GT1 Silverstone 2010 (Photo by Adam Pigott)

Seberapa berhasilnya MC12? Menurutmu seberapa berhasilnya mobil yang jadi juara dunia FIA GT dari 2005-2006 dan juara dunia FIA GT1 di tahun 2010, cuma gagal di tahun pertama di 2004 karena ada masalah dengan aturan homologasi FIA, tapi berhasil menang begitu lolos homologasi, dan ga menang di 2011 karena... errr... mobilnya ga ada yang pake? Yep, MC12 statusnya jadi legenda karena di jaman dia balap, MC12 GT1 bener-bener mendominasi. Tapi apa setelah MC12? Maserati ga punya supercar lagi. Ya ada GranTurismo MC Stradale sih, tapi ada dua masalah GT MC Stradale: Agak berat, dan orientasinya lebih ke mobil grand tourer yang sporty, bukan full supercar. Dan versi balapnya buat kelas GT4 agak bengek, ga sanggup kalo disuruh ngelawan mobil GT4 modern kayak McLaren 570S GT4, KTM X-Bow GT4 ato bahkan Chevrolet Camaro GT4.R.

Oke... terus apa hubungannya ama MC20 ini?

Ah, ini dia. MC di nama ini kepanjangannya 'Maserati Corse', yang berarti dikembanginnya sama divisi motorsport Maserati. Dan ada gosip kalo mesin di MC20 sudah lolos homologasi untuk ikut balapan yang diselenggarakan FIA dan ACO, yang kebetulan juga penyelenggara seri World Endurance Championship. Apakah kita bakal liat Maserati MC20 GTE di Le Mans? Atau MC20 GT3 di Spa 24 Hours? Mungkin aja.

Hmmmmm... Oke, berarti ini cuma reverse engineering dari Ferrari 488?

Eits, sembarangan ya kamu. Hal pertama yang harus kalian tahu, MC20 ini ga ada hubungannya sama Ferrari 488 atau Ferrari F8. Dua mobil itu chassis-nya masih aluminium. Maserati ngga mau sekedar ambil chassis mereka, jadi Maserati pergi ke Dallara dan minta bikin chassis carbon fiber baru. Berkat chassis carbon ini, berat MC20 bisa turun ke angka 1,470kg, ga jauh beda dari McLaren 570S dan sekitar 100kg lebih ringan dari Porsche 911 Turbo S.

 


Nah, ke chassis ini, dipasang mesin 3-liter V6 twin turbo baru bikinan Maserati, yang dijulukin Nettuno ('Neptune'), yang namanya diambil dari patung Neptunus di Piazza Maggiore di Modena (ya, patung yang sama yang jadi inspirasi logo Maserati). Mesin ini punya teknologi yang namanya Maserati Twin Combustion. Teknologi ini pake sesuatu yang namanya pre-chamber, yaitu ruang bakar kecil yang ditaro di antara busi dan ruang bakar biasa. Di ruang bakar utama juga ada busi lagi yang dipake kalo pre-chamber ini ngga dipake, biasanya kalo mesinnya ga bekerja di kecepatan tinggi. Tapi di kecepatan tinggi, campuran bensin-udara dipaksa masuk ke pre-chamber sebelum dibakar sama busi utama, lalu nanti keluar lagi ke ruang bakar utama buat dibakar lagi sehingga ga ada bensin yang terbuang percuma. Berkat teknologi yang diambil dari mesin F1 ini, mesin Nettuno V6 bisa ngeluarin 620hp di 7500rpm dan torsi 730Nm yang udah muncul bahkan di putaran serendah 2000rpm. Mesinnya sendiri bisa muter sampe 8000rpm, yang terhitung tinggi banget untuk sebuah mesin 6-cylinder turbo. Dipasangin sama gearbox 8-speed dual clutch, MC20 bisa akselerasi dari 0-100kph di bawah 3 detik dan kecepatan maksimumnya di atas 321kph.

Ehhh... Kenceng sih, tapi kayaknya lumayan umum buat supercar jaman sekarang

Yaaaa... tujuannya memang bukan jadi supercar paling kenceng di lurusan sih. Tapi nanti bakal ada sedikit kejutan di akhir kalo kamu hobinya drag race. MC20 ngga dirancang cuma buat di lurusan, tapi juga buat di trek. Ada sistem suspensi dan steering rack baru yang dirancang buat ngurangin sudut camber dari roda dan sudut caster dari steering rack supaya ukuran kontak ban ke aspal selalu konsisten bahkan saat kalian belok, supaya jumlah grip ga banyak berkurang. Selain itu, kayak di Ferrari, ada 5 mode berkendara yang bisa kalian atur dari kenop di konsol tengah. Mode GT mirip sama mode GT di Aston Martin DBS, yang berarti suspensi empuk, perpindahan gigi paling halus, dan mode mesin paling kalem. Puter ke arah kiri dan kalian pindah ke WET, di mana tenaga mesinnya bakal dikurangi supaya kalian ga nabrak pohon kalo cuaca lagi basah. Nah, dari mode GT kalo kalian puter ke kanan maka kalian masuk mode SPORT, di mana perpindahan giginya lebih cepet, mesin lebih agresif, dan suspensi lebih kaku. Pencet 2 detik, dan kalian masuk mode CORSA, di mana set-up semuanya dicocokkan untuk trek tapi sistem traction control masih nyala supaya kalian ga nabrak kalo mendadak bego di trek. Pencet 5 detik, dan traction control bisa mati sepenuhnya, seandainya kalian merasa cukup jago di trek.

 


Semua pembicaraan ini rasanya fokus ke performa di trek deh. Kalo buat harian gimana?

Nah, di sini MC20 mulai beda jauh dari pendahulunya, MC12. Dulu MC12 bener-bener ga cocok dipake harian. Ga ada AC, ga ada radio, bodi lebih lebar dari pantat Gajah Afrika, dan keleluasaan pandangan ke luar sama bagusnya kayak kapal selam Perang Dunia II.

 

Di MC20? Interiornya simpel, ga banyak pernik-pernik aneh, ada layar tengah 10.25-inch plus touch screen, dan ada opsi audio system 12-speaker dari Sonus Faber, merek yang sama yang bikin sistem audio buat Pagani. Bahkan ada 2 bagasi, satu bagasi 47-liter di depan dan 101-liter di belakang. Praktis kan? Bahkan side sill dari chassis carbon-nya pun dirancang serendah mungkin supaya keluar-masuk ga susah (yang pernah nyoba keluar-masuk McLaren 570S paham masalah ini). Pintunya, sebagai kejutan, pake butterfly door kayak McLaren. Bukan cuma buat pamer, tapi juga biar ga kepentok trotoar atau tembok pas dibuka.

 


Tapi jujur saja, kalian akan beli Maserati MC20 bukan buat kebutuhan harian, atau bahkan buat ngetrek. Kalian beli untuk sense of theatre-nya. Dan kalau menurut kami, desain MC20 ini bener-bener cakep. Mungkin ga secantik Ferrari 458, atau mentereng kayak Lamborghini Huracan EVO, tapi simpel dan ngga macem-macem. Apa yang ada di situ dirancang bukan cuma sekedar untuk keliatan bagus, tapi supaya berguna, entah untuk performa atau kemudahan penggunaan. Dan bagi kami sih, di situ cantiknya MC20. Supercar yang tetep keliatan indah walaupun desainnya ngga macem-macem.

Hmmmm... menarik. Tapi tadi katanya ada sedikit kejutan. Kejutan apaan?

Nanti bakal ada versi Spyder dari MC20, tapi itu sudah diduga sih. Yang mungkin ga kalian kira adalah MC20 'Folgore'. Versi ini bakal jadi versi full-electric dari MC20. Belum ada klaim tenaga dari Maserati, tapi kabarnya MC20 'Folgore' bisa tembus 100kph dalam 2.8 detik dan top-speed-nya ada di angka 318kph, tapi juga punya jarak tempuh 378km. Ini menarik sih, supercar full-electric pertama yang bisa punya jarak tempuh jauh, performa ga beda sama yang mesin bensin, dan (mudah-mudahan) harganya ga semahal hypercar.

Nah, ngomongin soal mahal, pasti mahal ya?

Ya namanya juga supercar. Mau murah sih kamu beli Agya aja. Tapi ngga semahal yang kamu pikir kok. Dulu MC12 mahal banget, bahkan lebih mahal dari Enzo. Tapi ngga dengan MC20. Kami belum tahu kalo masuk Indonesia bakal seberapa mahalnya, tapi di UK, dari berita yang dirilis EVO Magazine, harganya ada di angka £187,230 (sekitar Rp. 3.8 miliar), yang sebenernya ga terlalu mengejutkan. Rival lainnya kayak Lamborghini Huracan EVO RWD, Porsche 911 Turbo S, dan McLaren GT harganya ada di kisaran £150,000-190,000 (Rp. 3-3.8 miliar) di UK, jadi ya sebetulnya lumayan normal. Dan, kalau dari pengamatan kami kemarin ngoprek konfigurator Maserati, ngga banyak opsi yang perlu diambil, jadi anggap saja penghematan. Kalo masuk sini berapa? Anggap masukin pajak gila 125%, dan kita ada di angka Rp. 8.6 miliar. Tidak murah, tapi ya... apa mau dikata.

 


Sejujurnya, kami suka banget sama MC20 ini. Bukan hanya karena Maserati akhirnya punya supercar, tapi ini juga jadi awal baru buat Maserati yang mau meremajakan image mereka, dari sekedar alternatif nyeleneh dari merek-merek yang secara obyektif lebih baik, jadi alternatif sporty dan berkarakter dari merek-merek lain.

Sunday, August 9, 2020

[REVIEW] Mini Cooper John Cooper Works GP 2020: Mini Paling Hardcore di Indonesia

 

 ... ITU MINI?!

Yes. Itu Mini. Tapi ga kayak Mini yang biasa kalian liat di parkiran mall atau kafe. Ucapkan halo kepada Mini John Cooper Works GP, Mini paling kenceng, paling hardcore, dan paling galak di Indonesia.

Mini GP? Kayaknya pernah denger nama itu.

Itu karena sudah ada 2 Mini yang dapet badge GP sebelum generasi F56 ini. Ketika Mini pertama dihidupkan lagi sama BMW di tahun 2003, image Mini di mata pelanggan kebanyakan jadi hatchback kecil lucu stylish, bukan sebagai hot hatch serius macem Ford Fiesta ST. Tapi semuanya berubah di tahun 2006 pas Mini memutuskan untuk bikin Mini Cooper S jadi makhluk pemangsa trek dengan meluncurkan Mini hardcore pertama, yaitu Mini Cooper S with John Cooper Works GP Tuning Kit.

Selain tambahan tenaga dari mesin 1.6-liter supercharger 218hp, GP Kit dapet diet 40kg dengan hilangnya jok belakang dan peredam suara, sehingga Mini JCW GP Kit jadi Mini paling hardcore, buat orang-orang yang hobi ngetrek. Babak selanjutnya di sejarah Mini hardcore muncul di tahun 2012 dengan Mini John Cooper Works GP, kali ini bukan cuma tuning kit tapi bener-bener perubahan habis-habisan di bawah kulit kalo dibanding Mini JCW standar.

Kali ini, selain mesin baru 1.6-liter turbo 218hp, JCW GP dapet coilover yang bisa diatur kekakuannya secara manual kayak di Mercedes-AMG GT R PRO atau BMW M4 GTS, cocok buat yang hobi ngetrek. Selain itu, JCW GP generasi kedua dapet ban semi-slick Kumho Ecsta V700. Mau tau mobil lain yang dikasih ban semi-slick Kumho Ecsta? BAC Mono dan Dodge Viper SRT ACR. Ya, segitu track-focused-nya Mini GP2. Berkat ubahan tadi, plus diet jok belakang dan peredam suara, Mini GP2 bisa keliling Nordschleife dalam waktu 8:23, sekenceng Porsche 964 Carrera RS 3.8 yang dipasangin Pirelli P Zero Trofeo R. Tapi, ketika generasi kedua Mini digantikan generasi ketiga yang sekarang, Mini GP2 ga langsung digantiin Mini GP3. Sebelum ada GP3 yang hari ini kita bahas, ada satu Mini yang lumayan langka dan ga ada di luar pasar UK. Namanya Mini John Cooper Works Challenge, cuma ada 52 unit buat pasar UK, dan harganya semahal BMW M135i dengan mesin 3-liter turbo di tahun 2016. Tapi mungkin itu harga yang pantas, karena Mini ini dirancang sama tim yang isinya dateng dari enthusiasts, mulai dari tim British Touring Car Championship ampe jurnalis dari Evo Magazine UK.

Courtesy: EVO Magazine UK

Seberapa bedanya? Suspensi dan damper dibikin Nitron, perusahaan yang sama yang bikin suspensi dan damper buat Lotus Exige Cup 430, dan ini suspensi yang harus diutak-atik sendiri dengan 25 tingkat peredaman yang berbeda. Bahkan tinggi mobil dan camber pun bisa kalian atur untuk ngubah level grip di trek. Selain itu, remnya juga jauh lebih menggigit, wheel-nya dibikin sama orang-orang yang suplai wheel buat tim BTCC, bannya pake Michelin Pilot Cup 2 (sama kayak Porsche 911 GT3 RS), dan ada LSD mekanikal dari Quaife – lagi-lagi supplier buat tim BTCC – buat bantu ngirim 228hp ke roda depan. Oh, exhaust-nya juga sinting, dan saking kerasnya, kalo kalian matiin valve-nya, kalian ga bisa pake itu di jalan karena suaranya udah mirip ama machine gun. Barulah setelah itu muncul Mini JCW GP3, yang sempat di-preview sebagai konsep di tahun 2017 sebelum resmi diluncurkan tahun lalu.

Oke, jadi apa yang bikin Mini GP3 beda ama JCW biasa?

 

Silakan liat. Kapan lagi kita bisa liat Mini yang pake wheel spats macem mobil balap touring car begini? Udah gila ini desainnya. Dan liat wing belakang yang super gede itu! Bener-bener berasa ngeliat Mini Challenge versi balap buat jalanan. Oh, asal kalian tahu, cuma bakal ada 3000 unit Mini JCW GP3 di seluruh dunia, dan kalian bisa liat ini mobil nomer berapa dari nomer yang diprint di wheel spats depan. Jadi yakin lah ga akan ketuker kalo kalian ketemu GP3 lainnya.

 

Selain dari wheel spats gila dan wing gede di belakang, GP3 juga dapet wheel spesial, dan wheel ini ga bisa kalian dapetin bahkan di JCW standar sekalipun. Lucunya, biasanya Mini itu customisable banget dengan berbagai warna warni aneh, tapi ini satu-satunya spek yang bisa kalian dapet di JCW GP3. Racing Grey, aksen Melting Silver dan Chilli Red, serta stiker Rosso Red. Ga ada atap Union Jack dan cover spion checkered flag di sini ya.

Hih pelit amat ga bisa customisable. Selain eksterior apa lagi yang berubah?

Selain ubahan eksterior, di bawah kulitnya Mini JCW GP3 juga dapet banyak ubahan. Satu yang paling kentara adalah mesin BMW B48 2-liter turbo dari M135i baru, yang bisa ngeluarin 302hp dan 450Nm. Dipasangin dengan gearbox 8-speed Steptronic, GP3 bisa tembus 100kph dalam waktu 5.2 detik dan top speed-nya ada di angka 265kph. Sebagai konteks, Renault Megane RS Trophy-R lebih lambat 0.2 detik untuk tembus 100kph, top speed-nya 3kph lebih lambat, dan mesinnya kalah sedikit dari Mini GP3.

Mini JCW GP ga cuma soal mesin, tapi juga chassis, dan di GP3 ada banyak ubahan dari JCW standar. Supaya chassis-nya lebih kaku, mounting buat mesin dan gearbox di GP3 dibikin lebih solid, dan suspensi belakang pake set-up multi-link yang lebih kompleks tapi lebih presisi dibanding set-up torsion beam. Selain ubahan di kaki-kaki, ada mode baru untuk DSC. Di mode ini, GP Mode, DSC diprogram supaya lebih tidak intrusif, jadi kalian bisa bawa GP3 kalian di trek sekenceng yang kalian berani tanpa perlu khawatir ada gangguan dari stability control.

 

Courtesy: Auto Express UK

Masuk ke interior, dan hal pertama yang kalian sadari adalah... ga ada jok belakang. Seperti sebelumnya, GP berarti diet jok belakang dan peredam suara. Sebagai ganti jok belakang, ada strut brace gede warna merah di belakang buat nambah kekakuan chassis. Tapi selain ilang jok belakang, berkurangnya peredam suara, dan jok depan yang pake insert Dinamica microfiber (kayak di Mercedes-AMG), selebihnya... sama kayak Mini lainnya. Yang berarti desain nyeleneh yang dicampur sama desain logis dari BMW. Liat itu layar di tengah. Lingkaran gede itu bukan layar, tapi didesain supaya mirip sama desain centre stack di Mini generasi sebelumnya. Layarnya sih lebih normal, dan sistem yang dipake sebenernya ga beda ama iDrive di BMW (yang berarti masih salah satu sistem terbaik di pasaran).

Courtesy: Auto Express UK

Dua hal yang ga sama kayak di Mini standar, tapi, adalah panel instrumen dan paddleshift. Panel instrumennya ga lagi analog, tapi layar TFT 5-inch. Jujur aja, ini keren, kita suka banget ama layar begini. Dan untuk paddleshifter di GP3, materialnya bukan lagi plastik tipis tapi aluminium yang 3D-printed. Supaya berasa lebih spesial. Oh, ngomong-ngomong soal spesial, nomer mobil kalian di-print juga di dashboard loh. Jadi kalian selalu bisa nyombong ke temen kalian soal nomer urut GP3 kalian dari 3000 mobil yang dibikin.

Hmmmm kayaknya menarik. Bisa beli sekarang?

Berita buruk. Mini Indonesia cuma masukin 12 unit Mini GP3 buat pasar Indonesia. Dan semuanya udah sold out. Bahkan dengan harga yang... yah, lumayan bikin ngeri. Kalian bisa cari sendiri kok harganya.

 

Tapi worth it ga sih?

Kita ngga tau ya kalo menurut kalian pembaca. Tapi dari pandangan kita yang udah liat langsung, kalo emang pengen hot hatch FWD yang bisa dipake ngetrek dan ga ada kompromi, Mini GP3 beneran layak buat dibeli.

Terima kasih banyak buat Plaza Mini yang udah nyempetin waktu buat tim Exotic Cars Spotter Bandung ngereview Mini GP3 ini. Kalo kalian pengen mesen Mini atau penasaran sama hal-hal berbau Mini, langsung aja dateng ke Plaza Mini di daerah Gading Serpong, kontak dan alamat serta link social media mereka ada di bawah artikel ini! Oh, sebelum lupa, ada video review juga di YouTube kita. Jangan lupa ditonton ya!

https://www.instagram.com/plaza.mini
Jl. Boulevard Raya M5/10, Gading Serpong
Phone : +62 21 8064 6700
Fax : +62 21 8064 6702
Email : info@plazamini.co.id

 

 


Wednesday, March 4, 2020

[BERITA MOBIL] Koenigsegg Gemera 2020: Grand Tourer pertama dari Koenigsegg



Tunggu. Ini Koenigsegg kan? Kok kayak sedan sih?

Iya. Ini Koenigsegg kok. Bentuknya kayak sedan soalnya ada 4 kursi di dalemnya. Plus bagasi di belakang. Mesinnya juga kecil, cuma 3-silinder, ngasih tenaganya ke roda depan pula.


Hih. Koenigsegg kok 3-silinder.

Eh, jangan kabur dulu, Koenigsegg Gemera ini bukan sembarangan sedan 4 penumpang. Christian Von Koenigsegg sendiri  bilang Gemera adalah Mega-GT pertama di dunia. Harganya? Koenigsegg belum bilang, tapi jangan berharap lebih murah dari US$1 juta (Rp 14 miliar). SEBELUM PAJAK.

MAHAL AMAT DAH! Mobil 3 silinder doang kok sejuta dolar?!

Tunggu dulu, kan kami belum selesai ngomong. Iya, mesinnya 3 silinder, tapi mesin 2-liter twin turbo ini pake teknologi Freevalve, dan bisa ngehasilin 600hp dan 600Nm. Bingung gimana caranya mesin 3 silinder bisa dapet 600hp? Mesin ini, dinamain Tiny Friendly Giant (TFG) oleh Christian sendiri, punya teknologi Freevalve, di mana semua katup di silinder digerakkan bukan dengan aktuator seperti di mesin biasa dengan camshaft, throttle body, timing gear, dan segala tetek bengek lainnya yang bikin mesin biasa berat dan terbatas kemampuannya.


Semua alat tadi di atas diganti dengan aktuator hidrolik yang dipasang di tiap katup, dan semua aktuator ini punya kemampuan untuk mengatur bukaan katup secara individual, tanpa tergantung dengan katup di silinder yang lain. Jadi kalau butuh matiin satu silinder? Satu aktuator mati, dan bensin ga akan masuk ke dalam silinder itu. Bayangin teknologi kayak VTEC atau VVTi tapi timing bukaan katupnya bisa berubah sesuai kebutuhan, ga cuma di putaran tertentu. Nah, karena sekarang mesinnya dibebaskan dari batas yang umumnya ada di mesin dengan camshaft biasa, TFG bisa dapet 600hp di 7500rpm dan 600Nm dari 2000-4000pm, dan fuel cutoff-nya di angka 8500rpm. Oh, dan mesin ini bisa pake bahan bakar 100% etanol atau bahan bakar bensin biasa.

Tapi… penggerak roda depan?

Iya… secara teknis. Mesinnya ditaruh di belakang chassis karbon, tapi ada driveshaft yang ngirim tenaga ke roda depan dari mesin. Tapi sumber tenaganya ga cuma mesin kok. Ada 2 motor listrik di belakang – satu di masing-masing roda belakang – dan satu di crankshaft mesin, dengan keluaran total 1100hp di roda belakang dan 400hp untuk nambahin 600hp dari mesin di roda depan, dipasangin sama transmisi Koenigsegg Direct Drive kayak di Regera. Sayangnya, karena kerumitan transmisi dan lain hal, total tenaganya bukan 2100hp. Tetep aja, 1700hp dan 3500Nm itu bukan tenaga yang kecil. Bugatti Chiron itu 200hp lebih kecil, dan torsinya juga kalah 1900Nm. Dan dengan tambahan motor listrik ini, berarti Gemera sekarang jadi AWD.


Berkat kombinasi motor listrik dan mesin turbo kecil ini, Gemera bisa tembus 100kph dari diam di bawah 2 detik Butuh perbandingan? Chiron tadi bisa 0-100kph dalam 2.5 detik. Gemera 0.5 detik lebih kenceng. Silakan bayangkan sendiri rasanya gimana. Belum ada konfirmasi soal kecepatan maksimumnya, tapi jangan heran kalo Gemera bisa ngelewatin angka 400kph.


… Oh… Okey, ternyata performanya masih Koenigsegg banget. Tapi soal 4 penumpang…

Yep. Ada 4 kursi di dalam kabin Gemera, dan keempat kursinya pas buat penumpang ukuran dewasa. Kursinya semua dari cangkang carbon fibre, dan karena ga ada pilar B, mekanisme sabuk pengaman semuanya dirakit ke dalam cangkang carbon tadi. Tapi biarpun ada mekanisme itu, plus mekanisme buat reclining dan geser kursi, berat individual kursi ini cuma 25kg. Butuh perbandingan? Mercedes-Benz SL punya kursi yang mekanisme sabuknya terintegrasi juga, plus motor listrik buat pengaturan posisi. Berat kursinya 75kg. 50KG LEBIH BERAT. Pintu dihedral-synchro-helix dari Koenigsegg lain ada di sini, tapi sekarang ukurannya panjang banget supaya akses ke kursi belakang ga terhalang pilar B. Lucunya, tiap orang di mobil dapet 2 cupholder masing-masing, dengan satu cupholder dengan pemanas dan yang satu lagi dapet pendingin. Ga ada lagi ribut-ribut cappuccino dingin atau soda hangat.


Ada layar gede di depan dan belakang, jadi kalo kamu bosen macet-macetan kamu bisa nonton video di YouTube atau buka Netflix dan nonton acara TV favoritmu. Kalian juga mungkin sadar ga ada spion di Gemera. Itu karena spionnya diganti kamera, kayak di Audi e-Tron sama McLaren Speedtail. Di Amerika, ini bakal jadi masalah karena aturan federal mereka bilang spion harus ada. Solusinya? Bisa dipasangin spion kaca kayak mobil biasa. Tapi spion ini bisa dilepas kalo kalian ga suka pake spion itu. Dan ya, walaupun mesinnya di tengah, karena ukurannya kecil, jadi masih ada bagasi gede di belakang buat 3 koper dan satu bagasi lagi di depan buat satu koper. Koenigsegg praktis? Ga nyangka bakal ada hari di mana kita bisa pake Koenigsegg buat harian.


Soal jarak tempuh, biasanya buat Koenigsegg angkanya ga jauh-jauh amat. Tapi Gemera bisa tembus 1000 kilometer sekali isi bensin berkat mesin Freevalve tadi yang punya kebebasan penuh buat ngatur berapa banyak bensin yang dipake, ditambah motor listrik tadi. Dan kalo bensinnya abis, kamu bisa pake mode listrik dan setidaknya dapat 50 kilometer sebelum kamu dapet pom bensin.


Menarik. Tapi handling Gemera masih kayak Koenigsegg ga?

Oh tenang, selain chassis karbon kayak Koenigsegg lainnya, Gemera punya segudang senjata buat meningkatkan handling. Ada rear-wheel steering dan torque vectoring yang bisa bantu pengendalian di tikungan tajam, suspensi double wishbone dengan peredam hidrolik yang bisa diatur ketinggiannya, dan rem keramik 415mm di depan dan 390mm di belakang dengan kaliper 6 piston di depan dan 4 piston di belakang, supaya kalian bisa berhenti sebelum nabrak dinding setelah ngebut 400+kph. Dan kalian BUTUH rem segede piring itu, karena berat Gemera tembus angka 1850kg menurut Christian von Koenigsegg. Berat sih, tapi Aston Martin DBS beratnya ga beda jauh. Dan DBS tenaganya kalah 970hp.


Hmmmm… Makin dipikir makin menarik ini mobil. Tapi $1juta sebelum pajak…

Yah, barang bagus jarang murah, akui saja. Tapi sejujurnya, Gemera ga punya lawan. Yah, secara teknis kamu bisa bilang Bugatti Chiron Sport bisa jadi lawan, tapi Chiron cuma 2 penumpang, bagasinya cuma muat buat satu orang bayi gendut, dan harganya tembus US$3 juta (Rp. 42 miliar). Mungkin McLaren Speedtail juga bisa, tapi cuma bisa bawa 3 orang, mesinnya kalah tenaga jauh, dan tetep lebih mahal di angka US$2.5 juta (Rp. 35 miliar). Jadi ya… Gemera memang ga ada lawannya. Lagipula, perwujudan mimpi memang ga bisa murah. Christian udah mulai ngerancang mobil ini dari tahun 2003, tapi keterbatasan teknologi dan duit di tahun segitu bikin proyek ini baru jalan beberapa tahun ini. Dan Christian bener-bener nunjukin kalo Gemera ini kayak anak kesayangan dia. Desainnya aja di bagian depan terinspirasi dari konsep mobil pertama dia, dengan karakter yang lebih membulat kalo dibandingin sama CC8S atau CCX yang akhirnya jadi mobil produksi pertama Koenigsegg. Total cuma bakal ada 300 Gemera yang dibikin, jadi kalau kalian mau, cepetan kontak Koenigsegg dan bayar deposit.